Ary Indra: Bukan Jenius, tapi Berproses
Ary adalah salah seorang arsitek di biro Aboday. Selain mengawasi proyek, ia juga bertanggung jawab untuk segala urusan media dan publikasi yang berkaitan dengan bironya tersebut. Ia banyak berbicara di depan mahasiswa arsitektur dan di acara-acara yang berhubungan dengan profesinya. Salah satu karyanya yang cukup terkenal adalah Playhouse, kediamannya yang ada di Serpong.
Tak perlu seorang yang jenius untuk menjadi arsitek, namun yang mau belajar dan dibentuk. Demikianlah Ary, proses menjadikannya lebih matang dalam berkarya.
Sejak kapan Anda memiliki ketertarikan di dunia arsitektur?
Seingat saya dari kecil saya sudah bisa merasakan ruang dengan baik dan tahu apa yang harus dilakukan dengan sebuah ruang. Mungkin itu bisa dibilang asal-muasal ketertarikan saya di dunia ini. Arsitektur adalah satu-satunya hal yang bisa saya lakukan dan nikmati. Selain dari itu hanya mediocre (sedang-sedang -red), asal bisa. Hehehe..
Bagaimana ceritanya Anda dan kawan-kawan membentuk biro Aboday?
Aboday berdiri awal 2006 oleh kami bertiga: Ary Indra, Rafael David, dan Johansen Yap. Kami dulu satu kantor di sebuah perusahaan arsitektur yang berlokasi di Singapura. Saya tinggal di sana selama 10 tahun sebelum berlabuh kembali ke Jakarta karena sudah tidak menemukan tantangan yang menarik di sana.
*Aboday adalah akronim dari abode for David, Ary, and Yap (tempat kediaman David, Ary, dan Yap)
Lalu mengapa Anda tidak membuat biro di Singapura saja?
Indonesia itu sangat besar potensinya. Semua situasi pasti punya potensi, dan justru di balik kekacauan negara kita ini banyak celah yang bisa kita manfaatkan untuk maju dan berkembang.
Saya enggak mau tinggal di negara yang sedemikian majunya sehingga saya hanya jadi satu komponen yang tidak terlalu penting. Lebih baik tinggal di negara sendiri dan saya bisa jadi salah satu pembentuk /penentu/pemain utama di industri yang saya geluti.
Menurut Anda, hal apa yang bisa menghantarkan Anda hingga sampai di posisi saat ini?
Kerja keras. Atau keras kepala? Arsitek ada dua macam: yang jenius dan yang berproses. Saya termasuk yang kedua, karena semuanya bagai sebuah long journey yang enggak tahu di mana selesainya.
Bisa diceritakan bagaimana prosesnya?
Berani membuat keputusan, walaupun kadang keputusan itu kita sendiri enggak tahu salah atau benar. Asalkan pada saat memutuskan kita punya alasan tepat dan bisa bertanggung jawab, menurut saya itu sudah cukup. Akhirnya karena berani memutuskan, kita juga akan beberapa kali menghadapi keputusan yang salah.
Di situ kita belajar. Kuncinya adalah banyak melihat, membaca, dan mendengarkan karena semua yang kita mau tahu sebenarnya ada di sekitar kita. Hanya saja selama ini biasanya kita punya filter-filter sendiri akan apa yang mau kita serap. Nah, tinggal diubah-ubah saja nih filternya supaya apa yang kita perlukan bisa kita dapatkan.
Apa nasihat Anda bagi para arsitek/desainer muda yang baru memulai karyanya?
Harus tetap berproses dan tidak puas dengan yang sudah ada. Harus banyak mengalami dan melihat tidak hanya dengan mata tapi juga imajinasi.
Tentang Ary
Nama: Ary Indra
Tempat/tanggal lahir : Madiun/25 Mei 1971
Anak ke-: satu, dari tiga bersaudara
Pendidikan: Univ. Brawijaya Malang, Jurusan Arsitektur
Posisi : Principal Architect Aboday
(Swasti Triana Chrisnawati)
Foto: Victor Adianggara
Comments (1)





makasih banyak artikelnya,, sangat membantu, >_<
kbetulan lgy ada tgas cry artikel ary indra,
thankz so much!