Kembalikan Air kepada Tanah

“Saya merasa berhutang dengan generasi mendatang, sekaligus mengajarkan kepedulian lingkungan sejak dini kepada anak-anak.” Begitulah yang dikatakan Ari Andoko, salah seorang pemilik rumah yang menjadi teladan bagi warga lain di sekitarnya. Ia dan istrinya, Sherly, peduli dengan banjir ibukota. Mungkin mereka tidak bisa berbuat terlalu banyak. Setidaknya mereka bisa mengoptimalkan lahan mereka untuk membantu mengurangi surface run off (air mengalir di atas permukaan tanah).

Dikepung Biopori

Mencermati ruang luar rumah Ari dan Sherly, Tabloid RUMAH takjub. Biopori ada di mana-mana, mengelilingi rumahnya, mulai dari carport, taman depan, hingga area hijau di satu kaveling “jajahan” mereka. Ada sekitar 90 lubang biopori di area seluas ±400m2, dan masih akan bertambah lagi.

Sebagian dikerjakan orang lain seharga Rp15.000 per lubang, ditambah dop (penutup) Rp5.000, sisanya dikerjakan Ari saat libur kerja di akhir minggu. Ia membeli alat pelubang biopori berdiameter standar (10cm) di IPB. Alat setinggi 1,2m ini berharga Rp150.000 (biasa) dan Rp300.000 (portabel).

Munculnya biopori di rumah tersebut atas saran dari sang arsitek, Wijoyo Hendromartono (50). Ia berpendapat, “Biopori bisa menekan biaya dan lebih mudah dikerjakan (dibandingkan sumur resapan). Tapi sumur resapan tetap harus ada, plus biopori. Alasan saya menyarankan ke klien-klien adalah untuk mengembalikan air ke bumi. Dengan kita menyediakan sumur resapan, debit air yang terbuang (yang bisa menjadi banjir) akan berkurang.”

Jakarta sendiri membutuhkan sekitar 76 juta LRB (Lubang Resapan Biopori) untuk mengatasi banjir. Banyak yang tidak peduli, apalagi berinisiatif mengambil tindakan. Kebanyakan tidak ambil pusing akan hal ini, seperti cerita Joy, “Rata-rata klien-klien saya enggak terlalu care. Mau pasang biopori ya pasang saja. Asal rumah nyaman ya sudah.”

Didukung Konata

Tak cukup sistem sanitasi yang baik dan biopori mengelilingi rumah, Ari menambahkan sumur resapan konata. Jika sumur resapan biasanya dibuat dari beton atau bata dan arah peresapan hanya vertikal ke dasar sumur, konata berbeda. Material utamanya silinder polietilena yang berpori, memungkinkan peresapan vertikal maupun horizontal.

Zantar (59), penemu konata, menjelaskan, “Konsepnya sederhana: memindahkan air dari permukaan masuk ke dalam tanah. Bagaimana air meresap tergantung jenis tanahnya.” Menurut Zantar, kemampuan 1 unit konata sama dengan 15.000 kali biopori. Konata berdiameter 1m dan berkedalaman 4m. Biaya pembuatan per buahnya Rp4juta.

Baik konata maupun biopori sebaiknya ditempatkan di titik-titik terendah, atau lebih ideal lagi di titik air pertama kali datang. Adanya konata ini menjamin kecukupan pasokan air tanah saat musim kemarau serta mengurangi surface run off (air mengalir di atas permukaan tanah) saat hujan deras di rumahnya.

Di rumah ini, konata ditambahkan setelah sistem sanitasi dibuat. Jadi harus ada pipa terusan dari bak tampung ke konata. “Kebetulan konata bisa dibuat dekat bak kontrol saya, pipanya tinggal diterusin masuk ke situ. Air talang, air bekas mandi, cucian piring dan pakaian, masuk ke situ semua,” sahut Ari. Selain dapat mengurangi air buangan ke gorong-gorong, juga memaksimalkan penyerapan dan penyimpanan air (konservasi air tanah).

Nah, bagaimana dengan Anda? Sudahkah memaksimalkan penyerapan air di lahan rumah Anda?

(Swasti Triana Chrisnawati)

Foto: Tan Rahardian



Dibagi ke

Leave a Reply