Arsitek dan Rumah Anda

TABLOIDRUMAH.com– Pernahkah Anda mendesain rumah sendiri? Atau Anda membeli rumah jadi dari pengembang? Tidak bisakah Anda melakukannya sendiri? Apa alasan yang paling tepat untuk membangun sendiri atau menggunakan jasa arsitek?

Rumah adalah kebutuhan dasar yang harus disediakan manusia agar ia bisa hidup layak. Semua keluarga normal akan mencoba sekuat tenaga untuk mempunyai rumah yang layak. Syukur-syukur bisa dibanggakan. Semua kepala keluarga akan bekerja sekeras mungkin untuk dapat menghidupi keluarganya. Kita diajarkan untuk memenuhi kebutuhan hidup dasar: sandang-pangan-papan. “Papan” ditaruh di akhir seakan menjadi penanda bahwa setelah kita memilikinya, hidup kita sudah lengkap. Selebihnya sebenarnya adalah kemewahan.

Di Indonesia, paling tidak di Jakarta, semua keahlian yang dibutuhkan untuk membangun rumah sudah tersedia. Itulah bedanya di kota dibandingkan di tempat lain. Juga ketersediaan material. Anda bisa merancang dan membangun sendiri rumah Anda, dengan bantuan tukang atau mandor. Bisa dengan mudah kita meniru yang ada di majalah atau yang terlihat di rumah tetangga kita.

Lalu mengapa kita masih perlu jasa arsitek?

Di Indonesia, secara tradisional ada peran-peran di masyarakat yang berfungsi seperti arsitek. Misalnya di Bali, ada yang disebut Undagi. Ia menempati posisi khusus di masyarakatnya karena punya pengetahuan lebih mengenai teknologi membangun, hubungan rumah dengan keseharian kita, bahkan dikaitkan dengan falsafah hidup dan agama yang dianut.

Di masyarakat kita pun ada profesi yang sejajar dengan arsitek. Dokter menempati tempat yang khusus di masyarakat kita. Apakah Anda akan membantah dokter bila ia mendiagnosa penyakit Anda? Risikonya cukup besar!

Arsitek, di Indonesia, dibekali pengalaman dan pengetahuan untuk melayani masyarakat. Bahkan sekarang ini arsitek akan diwajibkan untuk mempunyai sertifikat yang dikeluarkan asosiasi profesi yang gunanya untuk menjamin perlindungan masyarakat dan juga para arsiteknya. Arsitek termasuk dalam 8 profesi yang diakui pemerintah, setara dengan profesi Dokter, Apoteker, Akuntan, Dokter Hewan, Dokter Gigi, Psikolog, dan Pengacara.

IAI adalah sebuah asosiasi profesi yang diakreditasi oleh LPJK (Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi). Berdasarkan Undang-Undang Jasa Konstruksi 2002, IAI dapat mengeluarkan Sertifikat Arsitek sesuai dengan standar UIA, organisasi arsitek dunia. Di Batam dan Jakarta, untuk membangun diperlukan SIBP bila kita melalui prosedur pengajuan IMB. SIBP (Surat Ijin Bekerja Perencana) dikeluarkan oleh Pemda/Pemprov setempat. Di masa datang diharapkan semua kabupaten/kota di Indonesia dapat memberlakukan SIBP ini demi melindungi masyarakat dan kota agar tertata baik.

Anda akan perlu mempertimbangkan jasa profesional arsitek untuk rumah Anda, bila Anda berniat untuk merancang rumah Anda dengan penataan yang baik, sehat, efektif, dan sesuai peraturan kota agar ikut berkontribusi kepada lingkungan kota yang berkualitas.

Ahmad Djuhara, arsitek

Foto: Corbis.com



Dibagi ke

Comments (3)

 

  1. Endah says:

    Salam hormat, pak rumah saya berukuran 9×15 meter. Dengan 3 KT, 2 KM, 1 gudang. Kami ingin menambah lantai 2 untuk kebutuhan ruang kerja, jemuran, dan gudang serta ruang bebas untuk gym. Luas diperkirakan 9×6 meter. Ketika dihitung pemborong, budget kami tidak mencukupi. Karena per m2 dihitung 2,3 jt dan lt bwh 1 jt. Apakah itu harga yang wajar? terima kasih

  2. indra says:

    Pak Nugraha,

    Saya bukan arsitek, namun kebetulan adalah praktisi konstruksi. Berkenaan dg. komplain pondasi rumah Bapak. Seperti umumnya rumah 1 lantai, menggunakan pondasi batukali dan sloof sudah mencukupi. Pondasi cakar ayam, sepatu,dll diperuntukkan untuk bangunan bertingkat.

    Standar developer tentunya bisa Bapak lihat di brosur sewaktu membeli rumah. Biasanya tercantum spesifikasi teknisnya.

    Pengalaman saya yang juga membeli rumah dari developer, standar kualitas memang tidak terlalu bagus, jadi perlu renovasi lagi sendiri.
    Demikian Pak, semoga bisa membantu

    Salam,
    Indra

  3. nugraha says:

    SalamHormat Bagaimana kode etik arsitek diterapkan pada arsitek yang pro developer dimana saya membeli rumah type 60 dengan luas 108 m2 gaya minimalis, dengan domain gymmick Residence, jadi cluster perumahan paling eksklusif dikota kami, lokasi strategis pinggir jalan utama, namun secara kontruksi tidak ada cakar ayam, tiang beton cukup di stek pada sloop diatas batu, rangka atap baja ringan, dinding pembatas belakang terbuka, sehingga perlu biaya terpisah, finishing standar perum.
    Kami telah bertemu dan komplain pada arsitek dan insinyur sipilnya, namun sebagai konsumen tidak berdaya, kami diberi penjelasan ; Begitulah standar yang harus diterima.
    Bagaimana dan pada siapa kami harus mengadu?
    Bagaimana kode etik diterapkan pada anggota IAI?
    Terimakasih atas jawabannya, Salam

Leave a Reply